Aku menatap jeruji sepeda seorang anak kecil yang terhenti di depan rumahku. Ingin rasanya mengulang kembali masa-masa kecil itu. Dibelakang anak itu, berlarian seorang ibu tampak ingin menjaga anaknya yang ternyata sedang belajar untuk mengayuh sepeda kecilnya. Kuingat saat-saat itu, aku hanya ditemani seorang pembantu dalam masa itu. Ayah Bunda, entah ada dimana. Mungkin bekerja, demi aku dan kakakku. Sedangkan kakak laki-lakiku adalah seorang pendiam yang tampak lebih acuh bahkan pada adik perempuannya sendiri. Yang aku tahu saat itu, kakak adalah sosok yang selalu dibanggakan oleh ayah dan bunda sedangkan ketika aku menyampaikan kecemburuanku terhadap kakak mereka sama sekali tak membelaku. Mereka mengatakan bahwa itu memang benar adanya sedangkan aku memang belum mampu memberi apapun untuk mereka. Namun apakah adil terus membayangi aku dengan prestasi kakak yang bahkan belum aku mengerti saat itu? Aku benar-benar tak menemukan sosok siapapun dalam keluargaku saat itu. Hanya pembantu... mungkin sangat menyedihkan. Mungkin kata-kata menyakitkan itu, mereka anggap takkan pernah mampu kuingat lagi, tetapi kini semuanya terlihat jelas. Dan aku mengerti bahwa sesuatu yang membuat hatiku hancur akan tetap tersimpan dalam hati.
Aku pun kembali masuk dalam rumah, rumah yang terasa akrab namun sunyi. Di lorong-lorong terhampar begitu banyak foto kakak saat kecil, namun tak satupun fotoku. Aku memang tak mempunyai banyak foto di masa kecil. bahkan yang kutahu foto masa bayiku hanya satu. sedangkan puluhan foto bayi kakak pernah kulihat. Apakah adil? ah, mungkin hanya sekilas kecemburuanku yang berlebihan. Aku pun membuang rasa sakit yang telah terkubur sejak dulu.
Aku masuk ke dalam kamar kecil berwarna kuning gading di sekelilingnya. Sunyi terus membayangi setiap sudut rumah ini. Gelap, kecil, dan mungkin sirkulasi udaranya agak terganggu sehingga membuatnya sedikit pengap. Namun cukup nyaman untuk sendiri dan menjadi diri sendiri seutuhnya. Ada sebuah gitar usang, namun suara senarnya masih terdengar bagus. Sebuah kamera range finder usang yang lensanya sudah sedikit berjamur. Tumpukan komik-komik usang yang masih kubaca, dan beberapa foto masa kecilku. Semua memang tampak nyaman, namun ini penjara untukku. Semua terlalu sunyi, membuatku terjerat untuk tak mampu menemukan siapa aku yang sesungguhnya. Kepribadian.. mungkin itu yang selama ini perlu kupertanyakan. Aku tak memilikinya, bahkan tak mengerti apa itu sebuah kepribadian yang seharusnya dimiliki setiap orang. Sering aku menghabiskan waktu dengan menangis sepanjang malam untuk sesuatu yang bahkan tak kumengerti. Dan hanya satu yang mampu hentikan tangis dan sepiku. Memotret.
Orang tuaku hanya mampu membasuh tangisku dengan materi mereka, sedangkan bukan itu yang kuperlukan. Aku hanya membutuhkan kebersamaan, cukup itu. Satu hari ketika semua berkumpul. Ayah, Bunda, Kakak, dan aku berada di rumah berkumpul dan melakukan suatu kegiatan atau mungkin hanya sekedar berbincang tentang kabar atau hal lainnya. Tak jarang aku memimpikan tentang hari itu, ketika semua tersenyum akrab dan tertawa lepas. Namun yang kudapati hingga kini hanyalah keluarga utuh yang sama sekali tak memiliki rasa satu sama lain.
Hari ini entah aku sangat layu, mungkin hanya lelah dan sedikit penat dengan tugas-tugasku. Aku pun membawa kamera range finder usangku itu untuk memotret. Rasanya kamera ini sungguh bosan untuk menangkap gambar-gambar yang kuambil. Karena aku selalu memotret hal yang sama, tentang keluarga. Kali ini aku mencari di sebuah tempat yang mungkin lumayan jauh dari rumah. Aku naik bus antarkota. Dalam bus itu, kudapati seorang pria berkemeja biru bergaris dengan topi menutupi sebagian wajahnya yang menghentikan langkahnya di sudut bus setelah memberi duduk seorang ibu yang tengah membawa anaknya. Pria yang bijak, gumamku. Andai ia tak berada disampingku kini, tentu akan kupotret. Wajahnya seperti mahasiswa, tapi mungkin sudah bekerja. Tak henti pandangannya menjelajah setiap penumpang di sudut bus. Pembawaannya tenang, lalu ia menghentikan pandangannya keluar jendela. Terhenti dalam lamunan, dan sungguh sangat indah. Sedangkan ibu yang diberikan tempat duduk pria itu, terus saja meracau memecah kebisingan bus. Dan anak kecil yang dipangkunya hanya terus meneguk teh yang dimasukan ibunya di dalam botol seraya menatapi ibunya yang terus berkata-kata. aku sempat memotret bagaimana mimik wajah anak itu, penuh keingintahuan, namun belum mampu berkata-kata. yang dilakukannya hanyalah terdiam dengan botol teh di genggamannya. pria disebelahku terlihat memerhatikanku, mungkin heran dengan tingkahku yang tiba-tiba saja memotret dengan santai orang asing yang tak dikenalnya. Ya, memang itulah aku.
Aku melangkahkan kaki menuju sekitar pemukiman mayoritas khas tionghoa. Disana begitu banyak hal baru yang tak umum dijumpai. Aku menyukai orang-orang Tionghoa, mereka itu mandiri. Aku memotret beberapa hal, lalu kembali melangkah. Aku pergi ke sebuah klenteng tua yang cukup ramai. Beberapa pria belasan tahun memakai batik dengan kamera DSLRnya terlihat mengawal beberapa orang dibelakangnya. Oh, aku mengerti.. mungkin sedang ada lomba rally foto. Ternyata benar, ada sebuah lomba rally foto. Daerah pemukiman ini memang sering dikunjungi untuk hal-hal seperti ini. Mungkin pemukiman ini sungguh terlihat asli, dibalik gedung-gedung tinggi yang ada dibaliknya. Itulah mengapa aku kagum terhadap orang-orang Tionghoa. Mereka tetap menjadi diri mereka sendiri, melanjutkan yang sudah ada, dan menjaganya tak dilahap masa. Tak terasa waktu sudah sangat memburu, ini hampir senja dan aku masih saja nyaman singgah di tempat asing ini. Aku memutuskan untuk kembali pulang. Namun alam membuatku melupakan segalanya. Sunset, ya aku harus melihat sunset sebelum kembali. Aku rindu sunset, menunggu sunset adalah suatu saat dimana aku tak mampu terhenti untuk menatap. Alam itu indah, tak mampu terlukiskan. Kebanyakan orang mungkin akan membayangkan bahwa suatu sore atau senja hanyalah titik dimana penat mereka berujung. Mengakhiri semuanya dan mampu untuk menghela nafas lega. Namun tampaknya mereka melewatkan keindahan luar biasa dibaliknya. Aku pergi ke roof top suatu gedung perbelanjaan. Roof top itu hanya sekitar 8 lantai, tetapi kurasa cukup untuk melenyapkan pandangan rumit dan suara bising dari bawah. Mungkin aku terlihat seperti orang gila yang berjalan sendiri dari rumahnya hingga kota hanya untuk memotret hal-hal yang mungkin dianggap biasa ini. Tapi itulah aku, penyendiri yang terlalu nyaman dengan kesendiriannya. Sunset sore ini indah, kulihat beberapa lapis warna langit ada disekelilingnya. Bahkan langit berwarna hijau toska, oranye, dan kuning terang. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Lalu aku memutuskan untuk pergi pulang setelah langit berubah menjadi kelam.
Sampai di rumah, aku tengah mendapati bunda yang tampak baru saja pulang. Ia menatapku kesal, entah mengapa hubunganku dengan bunda memang tak pernah harmonis sejak dulu. Namun aku sungguh sangat mencintainya, hanya saja aku tak mengerti bagaimana aku harus menunjukannya. Aku diam, lalu masuk dalam kamar. Pandangan bunda terus membayangiku dalam kamar. Apa aku adalah orang yang selalu membuatnya begitu kesal? apakah aku dipandangnya sebagai musuh dibanding sebagai anaknya? kini aku diam karena tak ingin terus saja beradu mulut dengannya. Aku ingin semuanya jauh lebih tenang, dan kupikir diamku ini mungkin akan membuat hubunganku dengannya jauh lebih baik. Ternyata usahaku selama ini hanyalah harapan kosong. Aku mencoba untuk membuka percakapan dengan bunda. Ayah belum tiba, mungkin lembur hingga larut. Bunda selalu menjawabku dengan ketus, kupikir mungkin ia lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya. Harusnya ia di rumah, seperti para ibu rumah tangga lainnya namun ia adalah seorang wanita karier. Itulah yang kubanggakan tentang bunda, ia adalah wanita yang kuat dan mandiri. Aku melakukan kesalahan malam ini, sebenarnya aku tak mengerti apa yang menjadi titik kesalahanku berbicara. Sesaat lalu kuucapkan kata-kata yang menurutnya sungguh keterlaluan, bahkan mungkin aku hanya mencoba untuk mencurahkan isi hatiku tentang kesendirianku tanpa dirinya. Ia mulai mencaciku dan memberi aku cap sebagai anak yang telah salah pergaulan. Baik, aku terima dan aku pergi ke kamar. Entah mengapa aku menangis, mungkin terasa lebih perih karena kata-kata ini langsung dari mulut bunda. Bunda yang kusayang, yang kukasihi, yang tak ingin kusakiti. Baik, aku pergi. aku memutuskan untuk pergi dari penjara ini dan aku tak ingin menyakiti hatinya lagi.
Aku pergi menuju danau kecil di sekitar perumahan. Danau yang indah bila malam, begitu banyak pasangan ada di tempat ini. Danau itu telah ada sejak aku kecil, menginjak usia 3 mungkin. Dulu aku bertemu dengan seorang anak laki-laki kecil yang sering membawa bola basket kecilnya duduk-duduk di tepi danau. Entah apa yang ia lakukan, ia lebih tampak seperti anak yang depresi. Ia hanya duduk dan diam, atau mungkin inilah tempat ketika ia mencurahkan segalanya pada alam. Kini aku tengah seperti anak laki-laki itu, namun kini sungguh depresi. Air mata tak kuasa untuk kutahan, dan kini aku benar-benar sangat sedih. Perlahan tangisku terhenti dan memutuskan untuk benar-benar pergi dari semua barang-barang mahal dan materi ayah bunda yang sama sekali tak tersentuh kasih. Ya, aku pergi dan takkan kembali.
Inilah aku setelah 2 bulan menggelandang bersama migran kumuh yang terlelap di depan emperan toko tiap malamnya. Mereka baik, saling memahami, dan hangat. Kebersamaan jauh membuatnya lebih indah. Tak jarang kupotret senyum bahagia mereka semua. Mereka ada dalam derita dan ketidaklayakan hidup, tapi mereka tertawa dan terlelap dengan senyum puas. Merekalah keluargaku kini, yang mampu memahami aku begitu singkat dan menerimaku dengan hangat. Sedangkan keluargaku di lain tempat, entahlah saat ini sedang apa. Ayah Bunda aku merindukan kalian. Mereka sempat mencariku, namun aku sungguh ingin pergi. Tetapi bukan aku tak pernah mengunjungi mereka lagi. Seperti pagi ini, aku pergi dengan baju lusuh seperti pemulung. Aku melewati jalan di depan rumahku, berpura-pura memungut sampah yang ada di depan gerbangnya. Namun kali ini aku mendapati rumahku tak kosong seperti biasanya. Aku melihat bunda. Ia tengah memegang sesuatu, entah apa yang sedang ia lakukan. Bukankah ia seharusnya bekerja? aku tengah menyadari apa yang dipegangnya. Itu adalah album fotoku. Foto-foto keluarga kecil yang indah dengan kehidupan mereka masing-masing. Bunda menangis, oh Tuhan aku tak ingin melihatnya menangis seperti ini. Ia terisak dengan foto-foto itu. Namun aku sungguh tak ingin kembali, aku hanya mampu tersenyum pilu seraya menitikan air mata . Ia takkan pernah tahu betapa perihnya aku dan kini aku takkan pernah ingin kembali. Cukuplah melihatmu Bunda, aku mampu merasakan kasihmu tanpa mampu menyakitimu.
SELESAI