Hariku berganti tanpa makna.
Rasanya baru saja aku pejamkan mata ini
Lalu terjaga dengan mimpi-mimpi kosongku.
Tiba-tiba aku terhenyak dengan terik sang surya tepat tengah hari.
Baru sekejap ku mencoba menikmati hari yang terasa hambar
Fajar tengah ada di barat
Berseberangan dengan sang dewi bulan
Yang seakan unjuk pesona dalam petang.
Dan gelap kembali menerpaku
Yang baru saja terbelalak merencanakan untuk apa hari itu.
Dan aku harus kembali dalam malam
Kembali bermain dalam mimpi-mimpi
Pulas dengan nyanyian gulita.
Rabu, 30 Desember 2009
Minggu, 20 Desember 2009
Aku begitu mengungkiri rasa dalam hati
Terlalu angkuh untuk akui itu cinta.
Hingga aku terjebak dengan sendirinya dalam rasa itu.
Tak sekalipun kujumpai insan yang dilema ketika tangan-tangan halus cinta menyentuhnya.
Namun aku terlihat takut disentuhnya.
Takut kalaulah itu sebuah perbuatan dosa, yang bahkan aku yang merasakannya kini masih belum mampu membayangkan apa itu cinta.
Jari-jari cinta membelaiku dan menuntunku menuju ladang cinta yang asri.
Yang mampu membelalakan hati polos yang tak tersentuh oleh cinta sebelumnya.
Tuhan, apa cinta yang begitu indah ini suatu dosa?
Dan mengapa Kau hadirkan cinta dalam hidup bila itu dosa?
Terlalu angkuh untuk akui itu cinta.
Hingga aku terjebak dengan sendirinya dalam rasa itu.
Tak sekalipun kujumpai insan yang dilema ketika tangan-tangan halus cinta menyentuhnya.
Namun aku terlihat takut disentuhnya.
Takut kalaulah itu sebuah perbuatan dosa, yang bahkan aku yang merasakannya kini masih belum mampu membayangkan apa itu cinta.
Jari-jari cinta membelaiku dan menuntunku menuju ladang cinta yang asri.
Yang mampu membelalakan hati polos yang tak tersentuh oleh cinta sebelumnya.
Tuhan, apa cinta yang begitu indah ini suatu dosa?
Dan mengapa Kau hadirkan cinta dalam hidup bila itu dosa?
Putih abu-abu
Waktu terlarut dalam macam angan dan cita.
Dokter, pilot, arsitek, penulis..
Menyikapinya dengan resah dan gundah
Terkadang kita menyanyikan kegundahan itu
agar sedikit tak terbebani
Membagi kisah dengan yang lain
Menorehkan jerat hati dalam tawa dan canda
Hingga kini..
Semua bergulir terlalu singkat
Terlalu singkat hingga baru tersadar ini akan segera berakhir
Masa putih abu-abu telah renta di angkatan kita
Hampir usai beberapa bulan lagi.
Namun sudahkah kita memaknai masa yang hampir usai ini?
Tiga tahun bersama peraturan yang tak jarang dilanggar
Bersama pengajar yang sesaat lagi takkan bersama kita
Cukupkah kenangan ini untuk tak memecah rindu kelak?
Dokter, pilot, arsitek, penulis..
Menyikapinya dengan resah dan gundah
Terkadang kita menyanyikan kegundahan itu
agar sedikit tak terbebani
Membagi kisah dengan yang lain
Menorehkan jerat hati dalam tawa dan canda
Hingga kini..
Semua bergulir terlalu singkat
Terlalu singkat hingga baru tersadar ini akan segera berakhir
Masa putih abu-abu telah renta di angkatan kita
Hampir usai beberapa bulan lagi.
Namun sudahkah kita memaknai masa yang hampir usai ini?
Tiga tahun bersama peraturan yang tak jarang dilanggar
Bersama pengajar yang sesaat lagi takkan bersama kita
Cukupkah kenangan ini untuk tak memecah rindu kelak?
Selasa, 08 Desember 2009
Keindahan pagi
Dua tahun lalu, saat aku singgah dalam dengung pagi..
Dengan leluasa ku pandangi senyum indahmu yang hiasi pagiku.
Kau yang termenung di tengah hamparan langit yang masih biru kelam,
dengan tenang menatap suasana sunyi.
Terus saja ku pandangi keindahan pagi itu tanpa sedikitpun tersadari olehmu,
bahwa keindahan itu adalah dirimu.
Satu tahun lalu, ketika waktu merubah segalanya.
Aku tepat berada di lantai, tempat kau singgah dalam pagi.
Dan kau berada di lantai dasar yang tak mampu kutatap lagi.
Kini aku terperangkap dalam sepi.
Pagi itu tak seindah tahun lalu.
Pagi itu aku membukanya dengan melayangkan pandanganku pada gerbang bawah,
berharap ketika itu sosokmu tertangkap tatapku.
Pagi itu, tepat setahun setelah tahun lalu,
keindahan pagi tak tersajikan begitu sempurna.
Kini tahun berikutnya. Waktu jauh membuatnya berbeda.
Kini sosokmu telah pergi, tak secuilpun tinggalkan keindahan pagi bersamaku.
Pagiku hanya terus menunggu hampa yang terus datang hingga siangku usai.
Tanpa hadirmu, tanpa indahmu.
Kini apa lagi yang tersaji indah dalam pagiku?
Dengan leluasa ku pandangi senyum indahmu yang hiasi pagiku.
Kau yang termenung di tengah hamparan langit yang masih biru kelam,
dengan tenang menatap suasana sunyi.
Terus saja ku pandangi keindahan pagi itu tanpa sedikitpun tersadari olehmu,
bahwa keindahan itu adalah dirimu.
Satu tahun lalu, ketika waktu merubah segalanya.
Aku tepat berada di lantai, tempat kau singgah dalam pagi.
Dan kau berada di lantai dasar yang tak mampu kutatap lagi.
Kini aku terperangkap dalam sepi.
Pagi itu tak seindah tahun lalu.
Pagi itu aku membukanya dengan melayangkan pandanganku pada gerbang bawah,
berharap ketika itu sosokmu tertangkap tatapku.
Pagi itu, tepat setahun setelah tahun lalu,
keindahan pagi tak tersajikan begitu sempurna.
Kini tahun berikutnya. Waktu jauh membuatnya berbeda.
Kini sosokmu telah pergi, tak secuilpun tinggalkan keindahan pagi bersamaku.
Pagiku hanya terus menunggu hampa yang terus datang hingga siangku usai.
Tanpa hadirmu, tanpa indahmu.
Kini apa lagi yang tersaji indah dalam pagiku?
Langganan:
Postingan (Atom)